Bengalon 1 Juta Dolar Per Tahun, Prioritaskan Ring Satu ‘Masyarakat Sekitar Tambang’

Senin, 20 Desember 2021
Usai ngobrol dan foto bersama Legislator Provinsi H. Agus Aras, Moh. Arifin, Div. ESD/ BCRD PT KPC Bengalon (kiri baju biru), ngobrol blak-blakan dengan agresifnews.com. (foto: Andi)

SANGATTA – Ditemui media agresifnews.com usai acara Murenbangdes Desa Tepian Baru, Moh. Arifin Divisi ESD/ BCRD PT Kaltim Prima Coal (KPC) Unit Bengalon, secara blak-blakan mengatakan bahwa apabila kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan (PKP2B) KPC diperpanjang, mereka akan tetap berkomitmen memberi bantuan kepada masyarakat, meski tetap harus menyesuaikan dengan perencanaan yang ada.

“ PT KPC setiap tahun mengadakan perencanaan bersama masyarakat, sehingga semua Desa memiliki budget masing-masing di CSR. Nah, masing-masing usulan masyarakat itu akan kita bantu dengan saluran anggaran CSR Desa itu tadi,” paparnya.

Ditanya soal besaran budget atau anggaran Corporate Social Responsibility  (CSR) yang disediakan PT KPC untuk masyarakat, Arifin dengan terbuka menyebut angka 1 juta dolar (Rp. 14.246.302.026, red) khusus kecamatan Bengalon.

“ Satu juta dolar itu dibagi ke 11 desa yang ada di kecamatan Bengalon, untuk desa Tepian Baru itu sama dengan Tepian Indah, sekitar 600 juta sampai 650 juta rupiah per tahun. Apabila tahun depan bertambah lagi jumlah Desa di Bengalon, maka proses pembagiannya kita belum tahu lagi, seperti apa nantinya akan kita bicarakan lagi,” imbuh pria ramah ini.

Dia menuturkan bahwa nominal yang dianggarkan melalui program CSR itu tersalurkan melalui beberapa pintu kegiatan seperti untuk infrastrukur, social, pemberdayaan, UMKM, agribisnis, pertanian dan sebagainya.

“ Prioritasnya itu biasanya untuk bikin jalan, misalnya semenisasi atau pengadaan sesuatu, tergantung permohonan masyarakat. Yang terbaru kita adakan pelatihan untuk badan usaha milik Desa (Bumdes,red), kita gabungkan beberapa Bumdes lalu bekerjasama dengan Unmul, melakukan pelatihan pemberdayaan itu sendiri. Itu usulan mereka, yang apabila dilakukan satu persatu itu tidak sesuai, anggaran terlalu kecil, maka kita padukan jadi satu,” bebernya.

Menurutnya, KPC selalu berkomitmen pada membantu meringankan kinerja pemerintah daerah, menjadi bagian yang mendukung program-program pemerintahan.

“ Apa yang didorong pemda itu yang yang kami sokong, yang pasti prioritas utama kita ada di Ring 1, masyarakat sekitar tambang,” ujarnya.

Ditanya lagi soal besaran anggaran CSR untuk Kutai Timur di tahun 2022, Arifin tersenyum dan mengatakan belum tahu, itu tergantung pusat katanya.

“ Yah, mudah-mudahan pusat mengakomodir, bisa beri lebih. Khan masyarakat juga dukung nih perpanjangan PKP2B nya, terutama warga Sangatta dan Kutim pada umumnya. Kita juga tahu kondisi kemarin waktu terjadi KPC ‘sedikit goyang’ perekonomian di Sangatta  juga ikut drop khan? Jadi saya rasa masyarakat juga tidak akan rela kalau KPC harus habis, mereka tetap akan mendukung kita, jadi yah! harapannya komitmen KPC kedepannya juga bisa meningkat, mungkin seperti itu” tandasnya.

Tanjung Bara Coal Terminal ( sumber foto: kpc.co.id )

Seperti dikutip dari duniatambang.co.id, dua perusahaan tambang raksasa milik Grup Bakrie di bawah naungan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yaitu PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tengah menunggu nasib perpanjangan kontrak dan perubahan status dari pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Kedua perusahaan tambang tersebut merupakan salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia.

Direktur dan Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava mengaku pihaknya cukup optimis kedua perusahaan milik Grup Bakrie ini akan mendapatkan perpanjangan kontrak. Namun, hingga kini pihak BUMI belum mau membeberkan Rencana Kerja Seluruh Wilayah (RKSW) yang diajukan Arutmin maupun KPC, termasuk mengenai luasan wilayah yang diajukan oleh kedua perusahaan produsen batubara raksasa tersebut.

KPC merupakan perusahaan tambang batubara raksasa yang tergabung dalam Grup Bakrie. KPC berlokasi di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan luas wilayah mencapai 90.938 hektare (ha). Kontrak KPC akan berakhir pada 31 Desember 2021 mendatang. Jika melansir data dari Joint Ore Reserves Commite (JORC) per Maret 2018, KPC masih memiliki cadangan sebanyak 1,07 miliar ton dan sumber daya sebesar 6,9 miliar ton. KPC merupakan salah satu perusahaan yang telah cukup lama beroperasi. KPC menandatangani PKP2B pada tahun 1982. KPC melakukan kegiatan eksplorasi pada 1982-1986, lalu pada 1989 KPC mulai melakukan kegiatan konstruksi dengan total investasi sebesar US$ 570 juta. Setelah perjalanan cukup panjang, KPC pun memulai kegiatan penambangan pada Juni 1990.

Arutmin dan KPC merupakan perusahaan tambang yang memiliki porsi cukup besar bagi produksi batubara nasional. Pada tahun 2018, produksi keduanya mengambil porsi secara persentase sebesar 14,95% atau mencapai 83,3 juta ton dari total produksi batubara nasional. Sedangkan jika melihat pada tahun lalu, Arutmin dan KPC mengambil porsi sebesar 14% atau mencapai 86,3 juta ton dari total produksi batubara nasional.

Jika melihat seberapa besar kontribusi kedua anak usaha BUMI bagi produksi batubara nasional, akankah keduanya mendapat perpanjangan izin?

Penulis : Andi

banner-home-panjang

Baca Juga

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *